Posted in Lifestyle, puisi, sajak, sastra

Babu di negeri sendiri.


Duduk bersimpu diatas bangku kayu

Sambil kunikmati jajanan jalan bertaburkan susu 

Satu sama lain berbincang berkomplotanPara pedagang termenung, menanti para pejajan

Sendagurau menambah manis jajan ku ini

Di mana lagi ada kesenangan hakiki

Tertawa tanpa beban hanya di warung kopi

Mungkin ada yang petantang petenteng sana sini

Tak beda dia dengan pengemisKasar di muka lemah di hati 

Malu bekerja hanya karena gengsi Kalau gengsi, gimana mau makan nasi? 

Kota ku ini daerah industriLebih banyak buruh dari pada petani

Mungkin ini yang namanya babu di negri sendiri.

Muhammad Ramadhan 

(Murdhan) 

Author:

Jadul, love melancholic and poetry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s